
Tugas kita bukan hanya menyampaikan pelajaran atau mengejar target kurikulum, tetapi menemani proses tumbuh mereka sebagai manusia. Anak-anak ingin didengar, ingin dipahami, dan ingin dihargai.
Kemajuan teknologi juga membuat pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai, ranking, atau prestasi akademik. Anak-anak perlu dibekali akhlak, etika, dan nilai agama agar tidak terseret arus zaman.
Sebagai guru, saya semakin merasakan bahwa mendidik anak-anak sekarang tidak bisa lagi disamakan dengan cara kita dulu dididik. Anak-anak yang kita hadapi hari ini adalah Generasi Z, generasi yang sejak kecil sudah akrab dengan handphone, internet, dan media sosial. Dunia mereka bergerak cepat, penuh informasi, dan sering kali lebih cepat dari kesiapan kita sebagai orang dewasa untuk mengimbangi.
Di
kelas, saya sering melihat sisi positif anak-anak Gen Z. Mereka berani bicara,
tidak ragu bertanya, dan cepat menangkap pelajaran jika dikaitkan dengan
hal-hal yang dekat dengan dunia mereka. Ada kepuasan tersendiri saat melihat
anak yang tadinya pasif tiba-tiba aktif karena merasa pendapatnya dihargai.
Namun di sisi lain, saya juga melihat tantangan yang nyata. Mereka mudah
terdistraksi, cepat bosan, dan kadang emosinya sulit dikendalikan. Ada yang mudah
tersinggung, ada yang langsung kehilangan semangat ketika ditegur.
Saya
melihat sendiri bagaimana anak-anak Gen Z memiliki banyak potensi. Mereka
berani berbicara, tidak takut bertanya, cepat memahami hal baru, dan kritis
dalam berpikir. Namun di sisi lain, mereka juga mudah terdistraksi, cepat
bosan, kurang sabar, dan kadang kesulitan mengendalikan emosi serta sikap. Dari
pengalaman itulah saya belajar bahwa anak-anak zaman sekarang tidak bisa lagi
dididik dengan cara keras, menekan, apalagi hanya disuruh diam dan patuh tanpa
penjelasan.
Kesadaran
mendidik anak di era ini harus dimulai dari diri kita sendiri sebagai guru dan
orang tua. Tugas kita bukan hanya menyampaikan pelajaran atau mengejar target
kurikulum, tetapi menemani proses tumbuh mereka sebagai manusia. Anak-anak
ingin didengar, ingin dipahami, dan ingin dihargai. Ketika mereka merasa aman
dan diterima, nasihat akan lebih mudah masuk tanpa harus dibentak atau dipaksa.
Kemajuan
teknologi juga membuat pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai, ranking,
atau prestasi akademik. Anak-anak perlu dibekali akhlak, etika, dan nilai agama
agar tidak terseret arus zaman. Gawai dan internet bukan musuh, tetapi harus
dikenalkan dengan cara yang benar. Anak perlu diajari sopan santun, tanggung
jawab, empati, serta bagaimana bersikap bijak baik di dunia nyata maupun di
dunia digital.
Saya
juga belajar bahwa anak-anak perlu diberi ruang untuk mencoba dan salah.
Kesalahan bukan akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses belajar. Saat
guru dan orang tua mampu menahan diri untuk tidak langsung memarahi atau
menghakimi, anak justru belajar bertanggung jawab, berani memperbaiki diri, dan
percaya pada kemampuannya sendiri.
Pada
akhirnya, mendidik anak Gen Z bukan hanya tugas sekolah. Ini adalah kerja
bersama antara guru, orang tua, dan lingkungan. Anak-anak yang kita bimbing
hari ini adalah masa depan bangsa. Jika sejak sekarang mereka dididik dengan
sabar, dengan contoh yang baik, dan dengan hati, insyaAllah mereka akan tumbuh
menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan tidak kehilangan jati diri.
Bagi saya, inilah inti mendidik di zaman sekarang : bukan sekadar mengajar, tetapi membersamai Bentuk Usaha dan Solusi dalam Mendidik Anak Gen Z.
Mungkin Sebagai
upaya nyata yang bisa kita lakukan ada beberapa langkah sederhana namun penting yang bisa kita
lakukan bersama:
Melalui
usaha-usaha sederhana namun konsisten inilah, kesadaran mendidik anak Gen Z
dapat benar-benar diwujudkan, bukan hanya menjadi wacana. Dengan niat yang baik
dan langkah yang tepat, kita bisa menyiapkan generasi yang kuat menghadapi
zaman tanpa kehilangan nilai dan akhlaknya.
Oleh : Z Purba
wAHH.. Mantap sekali, sudah sangat banyak yang harus dipersiapkan seorang guru din zaman Gen Z inii
Terimakasih atas komentarnya